Lupakan Postmodernisme
Buku yang awalnya berbahasa Perancis ini membahas secara terang-terangan ketidaksepakatannya pada Foucault. Foucalt memandang kekuasaan tidak akan mati, namun bermetamorfosis menjadi kedisiplinan. Seksualitas ada dimana saja akibat adanya pembebasan. Foucault luput memperhatikan bahwa pendapatnya di...
Saved in:
Main Author: | |
---|---|
Format: | Buku Teks |
Language: | Indonesian |
Published: |
Kreasi Wacana
2015
|
Subjects: | |
Online Access: | http://opac.isi.ac.id//index.php?p=show_detail&id=40159 |
Tags: |
Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
|
Summary: | Buku yang awalnya berbahasa Perancis ini membahas secara terang-terangan ketidaksepakatannya pada Foucault. Foucalt memandang kekuasaan tidak akan mati, namun bermetamorfosis menjadi kedisiplinan. Seksualitas ada dimana saja akibat adanya pembebasan. Foucault luput memperhatikan bahwa pendapatnya didasarkan pada pengandaian bahwa kekuasaan dan seksualitas mengacu pada realitas, padahal pada zaman mutakhir, keduanya adalah hiper-realitas. Karena pengandaian yang melesat, Focault mesti dilupakan, begitu juga Baudrillard. Sebagai seseorang yang bergelut dalam teori, dia memasang sikap tidak mau percaya dan tidak mau menerima. |
---|