Ondel-ondel sebagai Ruang Negosiasi Kultural Masyarakat Betawi
Ondel-ondel merupakan hasil karya seni Betawi kuno yang awalnya merupakan bagian dari aktivitas ritual sakral rakyat yang kemudian dijadikan sebagai salah satu ikon kota Jakarta. Sampai dengan hari ini ondel-ondel masih dapat ditemui, baik dalam bentuk seni ertunjukan maupun dekorasi. Boneka besar...
Saved in:
Main Author: | |
---|---|
Format: | Tugas Akhir |
Language: | Indonesian |
Published: |
PPS ISI Yogyakarta
2019
|
Subjects: | |
Online Access: | http://opac.isi.ac.id//index.php?p=show_detail&id=40324 |
Tags: |
Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
|
id |
isilib-40324 |
---|---|
record_format |
oai_dc |
spelling |
isilib-403242019-07-03T10:40:02Z Ondel-ondel sebagai Ruang Negosiasi Kultural Masyarakat Betawi WAHIDIYAT, Mita Purbasari Ondel-ondel Kostum PPS ISI Yogyakarta 2019 id Tugas Akhir http://opac.isi.ac.id//index.php?p=show_detail&id=40324 DIS/KT/Wah/o/2019 Ondel-ondel merupakan hasil karya seni Betawi kuno yang awalnya merupakan bagian dari aktivitas ritual sakral rakyat yang kemudian dijadikan sebagai salah satu ikon kota Jakarta. Sampai dengan hari ini ondel-ondel masih dapat ditemui, baik dalam bentuk seni ertunjukan maupun dekorasi. Boneka besar ini merupakan deformasi bentuk tubuh manusia yang ditampilkan dengan wajah tanpa leher dan busana warna-warni. Dalam perkembangan selanjutnya, ondel-ondel tidak lagi dikaitkan sebagai objek sakral tetapi bekembang menjadi bagian dari beberapa bentuk seni, atau jadi media untuk berbagai kepentingan praktis termasuk menjadi sekedar properti negara yang digunakan untuk kepentingan bisnis besar dan kecil. Ondelondel telah dipakai secara pragmatis oleh masyarakatnya. Unsur-unsur kostum pada ondel-ondel dan maknanya terus berkembang sesuai dengan konteks sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang terkait dengan peran kekuasan di masa-masa tertentu. Berdasarkan historis, analisis dan interpretasi semiotika, maka unsur-unsur kostum pada ondel-ondel mengalami kontinuitas dan perubahan, sehingga terjadi 4 klasifikasi model ondel-ondel, yaitu model barongan, model personifikasi, model Islami, dan model komersial, di mana model barongan menjadi titik awal penelitian ondel-ondel ini. Setiap model ondel-ondel memiliki ideologi tersendiri, yaitu: ideologi pembangunan, ideologi agama dan ideologi pasar. Dalam kontinuitas dan perubahan setiap model ondel-ondel terdapat tarik-ulur atau tawar-menawar dan dinamika sosial antara berbagai pihak yang membawa ciri khas pada unsur-unsur kostum tersendiri, yang selanjutnya dimaknai berbeda dari sebelumnya. Tarik-ulur dan tawar-menawar ini menciptakan ruang negosiasi kultural dalam masyarakat Betawi. Pada akhirnya ondel-ondel merupakan arena para elit penguasa bermain-main untuk eksistensi dirinya. Unsur-unsur kostum pada ondel-ondel diproduksi, dikonstruksi sebagai mitos dan menjadi ideologi oleh penggunanya (kelompok elit penguasa). Ketiga ideologiyang muncul pada masa berbeda semuanya berada di bawah payung ideologikekuasaan. Ideologi kekuasaan ini mewakili kelompok elit penguasa yang kaya danmemiliki pengaruh penting dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama.Dalam masyarakat Betawi, ideologi ini disebut ideologi gedongan, merujuk padalingkungan rumah besar atau gedung (gedong), di mana kelompok elit penguasa itutinggal. Diharapkan penelitian ondel-ondel ini dapat dilanjutkan dan dikembangkandengan melihat budaya-budaya lain yang mempengaruhi kontinuitas dan perubahanondel-ondel, perbandingan ondel-ondel dengan boneka-boneka besar lainnya diberbagai daerah di dalam dan luar Indonesia, serta mencari mitos lain dari ondelondelyang digunakan untuk menentang pemerintah.Kata Kunci: ondel-ondel, unsur-unsur kostum, ruang negosisasi kultural, ideologi Yogyakarta xv+261 hal.; ilus.; bib.; lamp.; 30 cm NONE http://opac.isi.ac.id//images/default/image.png |
institution |
Institut Seni Indonesia Yogyakarta |
collection |
Perpustakaan Yogyakarta |
language |
Indonesian |
topic |
Ondel-ondel Kostum NONE |
spellingShingle |
Ondel-ondel Kostum NONE WAHIDIYAT, Mita Purbasari Ondel-ondel sebagai Ruang Negosiasi Kultural Masyarakat Betawi |
description |
Ondel-ondel merupakan hasil karya seni Betawi kuno yang awalnya merupakan bagian dari aktivitas ritual sakral rakyat yang kemudian dijadikan sebagai salah satu ikon kota Jakarta. Sampai dengan hari ini ondel-ondel masih dapat ditemui, baik dalam bentuk seni ertunjukan maupun dekorasi. Boneka besar ini merupakan deformasi bentuk tubuh manusia yang ditampilkan dengan wajah tanpa leher dan busana warna-warni. Dalam perkembangan selanjutnya, ondel-ondel tidak lagi dikaitkan sebagai objek sakral tetapi bekembang menjadi bagian dari beberapa bentuk seni, atau jadi media untuk berbagai kepentingan praktis termasuk menjadi sekedar properti negara yang digunakan untuk kepentingan bisnis besar dan kecil. Ondelondel telah dipakai secara pragmatis oleh masyarakatnya. Unsur-unsur kostum pada ondel-ondel dan maknanya terus berkembang sesuai dengan konteks sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang terkait dengan peran kekuasan di masa-masa tertentu. Berdasarkan historis, analisis dan interpretasi semiotika, maka unsur-unsur kostum pada ondel-ondel mengalami kontinuitas dan perubahan, sehingga terjadi 4 klasifikasi model ondel-ondel, yaitu model barongan, model personifikasi, model Islami, dan model komersial, di mana model barongan menjadi titik awal penelitian ondel-ondel ini. Setiap model ondel-ondel memiliki ideologi tersendiri, yaitu: ideologi pembangunan, ideologi agama dan ideologi pasar. Dalam kontinuitas dan perubahan setiap model ondel-ondel terdapat tarik-ulur atau tawar-menawar dan dinamika sosial antara berbagai pihak yang membawa ciri khas pada unsur-unsur kostum tersendiri, yang selanjutnya dimaknai berbeda dari sebelumnya. Tarik-ulur dan tawar-menawar ini menciptakan ruang negosiasi kultural dalam masyarakat Betawi. Pada akhirnya ondel-ondel merupakan arena para elit penguasa bermain-main untuk eksistensi dirinya. Unsur-unsur kostum pada ondel-ondel diproduksi, dikonstruksi sebagai mitos dan menjadi ideologi oleh penggunanya (kelompok elit penguasa). Ketiga ideologiyang muncul pada masa berbeda semuanya berada di bawah payung ideologikekuasaan. Ideologi kekuasaan ini mewakili kelompok elit penguasa yang kaya danmemiliki pengaruh penting dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama.Dalam masyarakat Betawi, ideologi ini disebut ideologi gedongan, merujuk padalingkungan rumah besar atau gedung (gedong), di mana kelompok elit penguasa itutinggal. Diharapkan penelitian ondel-ondel ini dapat dilanjutkan dan dikembangkandengan melihat budaya-budaya lain yang mempengaruhi kontinuitas dan perubahanondel-ondel, perbandingan ondel-ondel dengan boneka-boneka besar lainnya diberbagai daerah di dalam dan luar Indonesia, serta mencari mitos lain dari ondelondelyang digunakan untuk menentang pemerintah.Kata Kunci: ondel-ondel, unsur-unsur kostum, ruang negosisasi kultural, ideologi |
format |
Tugas Akhir |
author |
WAHIDIYAT, Mita Purbasari |
author_facet |
WAHIDIYAT, Mita Purbasari |
author_sort |
WAHIDIYAT, Mita Purbasari |
title |
Ondel-ondel sebagai Ruang Negosiasi Kultural Masyarakat Betawi |
title_short |
Ondel-ondel sebagai Ruang Negosiasi Kultural Masyarakat Betawi |
title_full |
Ondel-ondel sebagai Ruang Negosiasi Kultural Masyarakat Betawi |
title_fullStr |
Ondel-ondel sebagai Ruang Negosiasi Kultural Masyarakat Betawi |
title_full_unstemmed |
Ondel-ondel sebagai Ruang Negosiasi Kultural Masyarakat Betawi |
title_sort |
ondel-ondel sebagai ruang negosiasi kultural masyarakat betawi |
publisher |
PPS ISI Yogyakarta |
publishDate |
2019 |
url |
http://opac.isi.ac.id//index.php?p=show_detail&id=40324 |
_version_ |
1741201258490888192 |