Hakikat agama dan ajaran kejawen
Berbicara soal agama (Formal atau agama dunia) dan “agama (kearifan) lokal” memang tak ada habisnya. Sejak manusia telah menyadari keberadaan dirinya, ia mulai menanyakan sesuatu, ia menanyakan hakikat dirinya, siapa aku? Aku berasal dari mana? Siapa yang menjadikan diriku ketika ia mulai-walau bar...
Saved in:
Main Authors: | , |
---|---|
Format: | Partitur/Praktek Musik |
Language: | Indonesian |
Published: |
Ampera Utama
2018
|
Subjects: | |
Online Access: | http://opac.isi.ac.id//index.php?p=show_detail&id=41460 |
Tags: |
Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
|
Summary: | Berbicara soal agama (Formal atau agama dunia) dan “agama (kearifan) lokal” memang tak ada habisnya. Sejak manusia telah menyadari keberadaan dirinya, ia mulai menanyakan sesuatu, ia menanyakan hakikat dirinya, siapa aku? Aku berasal dari mana? Siapa yang menjadikan diriku ketika ia mulai-walau baru sedikit – bisa menjawab maka sejakitu ia memeluk sebuah “agama” atau kepercayaan yang sangat sederhana. Sedikit jawaban mungkin didapat sehingga hal itu bisa dijadikan modal untuk pertanyaan berikut. Manusia tetap bertanya, meski wahyu Ilahi telah diturunkan, keberadaan masih dianggap unik dan misteri. Agama(kepercayaan) bisa bertahan sampai sekarang karena ia merupakan kebutuhan psikologis dan sebagai sarana untuk mencari keselamatan. Kebutuhan psikologis itu berangsur-angsur bisa hilang seiring dengan manusia yang bersikap rasional.Kebutuhan psikologi bisa bilang dan tergantikan oleh kehadiran kelompok-kelompok ikatan primodial lain. Tetapi kebutuhan untuk "hidup Selamat" tak mungkin tergantikan sehingga agama-agama tetap bertahan hingga kini. |
---|