Desa kita : drama tiga babak
Dalam hidup manusia, di mana pun ia berada, tentulah terpola dalam tiga tahap. Pertama, lahir, kedua menikah, dan ketiga mati. Mungkin, secara institusional seseorang memilih tidak menikah, tetapi dalam bentuk lain,pada dasarnya ia kawin, misalnya kawin dengan cita - cita yang lebih besar. Fidel Cas...
Saved in:
Main Author: | |
---|---|
Format: | Buku Teks |
Language: | Indonesian |
Published: |
Pustaka Sinar Harapan
1991
|
Subjects: | |
Online Access: | http://opac.isi.ac.id//index.php?p=show_detail&id=44921 |
Tags: |
Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
|
Summary: | Dalam hidup manusia, di mana pun ia berada, tentulah terpola dalam tiga tahap. Pertama, lahir, kedua menikah, dan ketiga mati. Mungkin, secara institusional seseorang memilih tidak menikah, tetapi dalam bentuk lain,pada dasarnya ia kawin, misalnya kawin dengan cita - cita yang lebih besar. Fidel Castro, Yasser Arafat, fransiskus assisi, Mangunwijaya, Gandhi, dan banyak orang lain lagi, adalah tokoh - tokoh besar yang kawin dengan ide - ide besar. Desa kita menyajikan peristiwa - peristiwa itu. Bahkan, kelahiran, pernikahan dan kematian menjadisubstruktur lakon ini. Karena itulah, pementasannya nanti akan membayangkan semacam upacara, ritual. Ada bayang - bayang selamatan di sana. Akn tetapi, Desa Kita tidak menyajikan sama sekali gagasan besar. Tokok - tokoh lakon ini : dokter, tukang susu, pemgantar koran, ibu rumah tangga, polisi, pemimpin paduan suara, penjual minuman, sama sekali bukan Macbeth atau Oidipus, yang memiliki kemampuan menyandang penderitaan secara hebat, juga bukan Willy loman dalam Death of a salesman karangan Arthur miller yang menjadi korban perubahan sosial yang dahsyat, juga bukan pula Ephraim Cabot dalam Desire under the elm karya O'Neil, yang keras bertahan untuk menjaga kemurnian hidup. mereka adalah orang - orang biasa dengan maalah biasa, sehari - hari. |
---|