Kajian Visual Buku Bergambar Karya Handaka Vijjānanda: Pangeran Setia Kawan

Kisah sejarah agama telah banyak direpresentasikan ke dalam media visual khususnya seni ilustrasi. Dalam merekonstruksi sebuah cerita, illustrator memiliki cara pandang dan menyampaikan komunikasi yang berbeda. Salah satunya adalah buku Sutasoma: Pangeran Setia Kawan yang merupakan adaptasi dari cer...

Full description

Saved in:
Bibliographic Details
Main Author: IVANA, Felicia
Format: Tugas Akhir
Language:Indonesian
Published: FSR ISI Yogyakarta 2022
Subjects:
Online Access:http://opac.isi.ac.id//index.php?p=show_detail&id=45993
Tags: Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
PINJAM
Description
Summary:Kisah sejarah agama telah banyak direpresentasikan ke dalam media visual khususnya seni ilustrasi. Dalam merekonstruksi sebuah cerita, illustrator memiliki cara pandang dan menyampaikan komunikasi yang berbeda. Salah satunya adalah buku Sutasoma: Pangeran Setia Kawan yang merupakan adaptasi dari cerita relief Candi Borobudur yang menceritakan kisah lampau Buddha Gaotama. Kisah Sutasoma juga terlihat diceritakan pada kitab Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Adaptasi tersebut menimbulkan tranformasi seperti penambahan, pengurangan, dan pengubahan pada narasi dan unsur visual dengan menyesuaikan wahananya yang baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adaptasi penggambaran ilustrasi adegan kisah Sutasoma pada buku ilustrasi Sutasoma: Pangeran Setia Kawan karya Handaka Vijjānanda berdasarkan relief Candi Borobudur dan kaitannya dengan kitab Kakawin Sutasoma. Penelitian ini menggunakan analisis visual Edmund Feldman, alih wahana dan penilaian ilustrasi Sofyan Salam yang dibantu oleh teori pendukung (desain, ilustrasi). Analisis visual Edmund Feldman terdiri dari tahapan deskripsi, tahapan analisis, tahapan interpretasi dan tahapan penilaian. Analisis alih wahana membahas penambahan, pengurangan, dan pengubahan yang terjadi pada suatu karya seni. Penilaian ilustrasi Sofyan Salam membantu untuk menilai karya seni dari segi keefektifan komunikasi, keartistikan wujud dan keapikan presentasi. Berdasarkan dari hasil penelitian, kesimpulan yang diperoleh adalah buku Sutasoma: Pangeran Setia Kawan tidak memiliki kaitan dengan kitab Kakawin Sutasoma. Buku ilustrasi Sutasoma juga lebih menggunakan kitab Jatakamala 31 sebagai sumber acuannya dibandingkan dengan relief Candi Borobudur. Proses alih wahana seperti penambahan, pengurangan dan pengubahan lebih banyak terjadi pada penggambaran visual dan adegan dalam buku ilustrasi Sutasoma. Meskipun ilustrator terlihat melakukan pengembangan narasi dalam menggambarkan kisah Sutasoma, nilai-nilai asli berdasarkan sumber referensinya yaitu kitab Jatakamala 31 masih tetap utuh dan tidak berubah.